Tampilkan postingan dengan label salam pena ilalang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label salam pena ilalang. Tampilkan semua postingan
Dona Tapi Doni

Dona Tapi Doni


Hari masih terlihat gelap, udara pagi menusuk ke selasar pori-pori.

Selepas shalat subuh, Doni bersiap duduk manis di depan kaca riasnya. Mulailah usapan demi usapan manja menghias wajah tampannya dia sulap menjadi paras yang cantik.

Tak lupa pakaian kerjanya baju berkerlap- kerlip seperti pecahan kaca, rok mini, dan stoking warna kaki.

"Sempurna" gumamnya dalam hati. "Ya Allah ... berkahilah untukku rezeki-Mu hari ini, agar aku bisa membuat ibuku makan dengan layak dan membeli obat." Do'anya setiap pagi selalu terpatri dalam hati.

"Bu ... Doni berangkat dulu yah."
"Hati-hati yah nak, jangan pulang terlalu sore dan jangan lupa shalat."

Dengan tubuhnya yang langsing semampai, parasnya yang nampak cantik, Doni mulai melangkahkan kakinya dengan perkakas mikrofon dan salon kecil diikat di pinggang.

Menyusuri Pasar dan Terminal, Doni mulai beraksi, bernyanyi, menari manja dan lucu agar menarik setiap mata yang ada di sana dan memberikannya sedikit uang receh sisa jajan dan sisa belanja. Ia kini dikenal dengan nama Dona.

Menjadi pengamen dan berdandan layaknya seperti perempuan, sungguh tak pernah ada dalam rentetan cita-citanya. Ia yang tamatan SMA sudah berusaha mencari pekerjaan, namun tak ada hasil. Tak satu pun tempatnya melamar pekerjaan yang memberi kesempatan. Akhirnya ia sampai pada keputusan "Aku harus melakukan apa pun, demi ibu, yang penting halal". Hingga suatu hari Doni bertemu dengan seorang pengamen yang berdandan seperti dirinya saat ini. Meski demikian Doni tak pernah mengeluh, ia sadar bahwa apa pun yang terjadi pada dirinya mungkin sudah kehendak-Nya.

Mulanya banyak teman dan tetangga yang mencibir, bahkan dari keluarga almarhum ayahnya sampai tega memarahi ibunya Doni dan mengatakan ia tak bisa mendidik anak. Tapi Doni menunjukan kepada semua orang  bahwa ia tetap dapat menjaga kodratnya sebagai laki-laki. Ada pun dandanan seperti perempuan hanyalah cara dirinya untuk mencari nafkah. Pada akhirnya mereka yang mencibir pun malah berbalik menyemangati Doni agar terus semangat.

Begitulah manusia, tugas kita hanya berikhtiar dengan penuh rasa optimis. Selanjutnya segala apapun yang akan terjadi kita hanya bisa bertawakal.

Sedikit demi sedikit, Doni mengumpulkan uang dari hasil pekerjaannya. Hingga terkumpulah uang sebanyak Rp. 3.000.000,-. Dengan bermodal uang tiga juta, ia mendirikan kedai sosis bakar dan minuman ringan di depan rumahnya. 

Kini, sudah dua tahun Doni meninggalkan dunia ngamennya dan terus mengembangkan kedainya. Doni sekarang bukan lagi Dona sang pengamen Pasar dan Terminal yang cantik, tapi seorang pengusaha kuliner muda yang memiliki 3 cabang kedai sosis bakar dan minuman ringan kekinian.


Cipanas-Lebak, 26 Agustus 2021
Iis Yuliati
Serasa Bertanya Pada Patung

Serasa Bertanya Pada Patung


Senin, 16 Agustus 2021 merupakan hari yang paling ditunggu-tunggu, kado terindah di bulan Agustus di momen kemerdekaan Republik Indonesia ke-76 ... kami diperbolehkan melakukan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTM Terbatas).

Meski dilakukan secara terbatas, setidaknya kami bisa melakukan interaksi secara langsung antara guru dengan peserta didik. Betapa sedih perasaan hati ini ketika pertama kali memulai kegiatan belajar di kelas.

"Assalamu'alaikum anak-anak ibu, bagaimana kabarnya?" Saya mulai membuka kegiatan dengan menyapa mereka. 
"Wa'alaikumsalam ... alhamdulillah sehat." jawab anak-anak serempak.

Tentunya hati riang melihat dan mendengar mereka menyambut salam dari saya. Tapi untuk pertanyaan yang kedua, eng-ing-eng ... gubrag!!😥 Rasanya kok seperti hati teriris.

"Ok, sekarang kita coba mengulas kembali materi yang pernah kita bahas di pembelajaran Daring yah, agar ingatan kita tetap full. Coba sebutkan materi apa yang minggu lalu kita bahas di kegiatan belajar Daring?"
Mereka terdiam seribu bahasa dan saling berpandangan dengan temannya yang berada di meja sebelah. 
"Halloooooo ... pikiran kalian masih berada di kelas ini kan? Ibu sedang berbicara dengan anak-anak SMP kelas IX kan?" Tanyaku memancing agar mereka mau menjawab. Namun, mereka hanya tersenyum.

"Baiklah sebelum ibu bahas materi, ibu ingin lihat dulu catatan kalian. Silahkan dibuka buku catatannya." Anak-anak pun nampak gelisah mendengar perintah itu. Ketika saya mulai menghampiri mereka satu persatu, ternyata ... dari 16 anak yang ada di ruang kelas itu hanya dua orang yang memiliki catatan dari materi ketika belajar Daring. "Aduuuuuh... duh... duh... duh... duh... duh... duuuuuh." (Jadi inget sebuah lagu)🤭🤭. Gereget dalam hati bergumam. Ingin marah rasanya, tapi saya pun menyadari atas keterbatasan situasi saat ini. Kita tidak bisa menyalahkan mereka pada akhirnya. Sehingga saya pun kembali memutar otak untuk berusaha membantu ketertinggalan mereka.

Serasa bertanya pada patung akhirnya, dan itu hanya membuat saya tersenyum sambil menahan pedih rasa hati.

Semoga kita selalu diberi sehat, agar dapat belajar-mengajar dengan wajar. Sehingga anak-anak di desaku di tempatku mengajar ini tak tertinggal, sehingga mereka dapat meraih mimpi, menggapai asa, menggenggam cita.


Cipanas-Lebak, 23 Agustus 2021
Iis Yuliati



Kok Keluar

Kok Keluar


Hari masih terlihat gelap, matahari belum menampakkan senyumnya pagi ini. Udara dingin diselimuti embun kian menambah rasa hati untuk kembali berbaring di atas bantal empuk dan hamparan kasur kapuk.

Kreeeeeeet ... suara pintu terbuka, Bu Nina memastikan anaknya sudah bangun atau belum pagi ini.

"Gis ... bangun dong nak, sudah solat subuh belum?" Tanya Bu Nina.
"Sudah bu, tadi Agis udah solat kok! Tapi masih dingin makanya rebahan lagi." Jawab Agis sambil berusaha untuk bangun lagi dari tempat tidurnya.
"Ya sudah tapi jangan lupa hari ini kamu ada jadwal belajar PJJ kan?"
(Saat ini Agis duduk di kelas VIII)"Iya bu, tapi ... " wajah Agis terlihat sedih.
"Tapi kenapa?" Tanya Bu Nina dengan rasa penasaran karena melihat wajah Agis yang begitu sedih.
"Quota Hp Agis udah habis dari dua hari yang lalu bu." Jawab Agis sambil tertunduk lesu.

Mendengar jawaban Agis, hati Bu Nina terasa tersayat, ia bingung harus bagaimana bercerita pada anaknya yang seharusnya tidak usah tahu tentang kesusahan orang tuanya. Jangankan untuk beli quota internet, untuk makan hari ini pun masih belum kelihatan.

Pak Burhan, ayahnya Agis termasuk orang yang kena PHK dari tempatnya bekerja karena dampak pandemi covid-19, sehingga ia terpaksa menjadi pengangguran. Tapi ia pun sudah berusaha menjadi tukang ojek untuk menopang kebutuhan di rumahnya. Karena tukang ojek juga sudah banyak di kampungnya dan penumpang pun sepi, paling ia hanya membawa pulang uang Rp. 40.000,- bahkan kadang tidak membawa sama sekali.

Sungguh Bu Nina dilanda rasa bingung saat itu, apa yang harus ia katakan pada Agis. Ia takmau mematahkan semangat anaknya untuk belajar.
Meski sekolahnya memberi kesempatan untuk belajar Luring kepada siswa yang tidak memiliki Hp, tapi Bu Nina tidak tega kalau Agis ke sekolah hanya sendirian. Karena di kampungnya teman-teman Agis belajar Daring semua. Ia takut anaknya merasa minder hingga hilang rasa percaya diri.

Dalam perasaan yang resah, Bu Nina tetap menyemangati anaknya. "Kalau quota Hp Agis habis, ya sudah nanti ibu temuin Bu Qonita wali kelasmu yah. Supaya untuk sementara Agis bisa belajar Luring karena hari ini ibu belum ada uang buat beli quota belajar Agis."
"Ya sudah, iya bu. Nanti kalau Bu Qonita mengizinkan Agis baru datang ke sekolah ya bu." Jawab Agis sambil tersenyum berusaha menyembunyikan rasa sedihnya.

Jam 09.00 di hari itu pula Bu Nina bergegas berjalan kaki menuju sekolah yang jaraknya lumayan jauh dari rumah. Ia tidak mau mengganggu suaminya mencari nafkah, sehingga memilih berjalan kaki. Sesampai di sana ia langsung menemui Bu Qonita selaku wali kelas anaknya. Meski merasa sungkan ia terpaksa menceritakan keadaan keluarganya dan Bu Qonita mendengarkan dengan seksama.

"Sebetulnya saya yakin Agis pasti mau saja belajar Luring ke sekolah mengambil modul/materi dan tugas dari bapak/ibu guru. Tapi saya gak tega karena dia hanya sendirian, semua anak di kampung saya tidak ada yang belajar Luring. Jadi saya mohon sama ibu, izinkan saya saja yang datang ke sekolahnya, biar Agis tetap di rumah saja menunggu. Atau kalau gak bisa ... Agis keluar aja dulu dari sekolah yah bu? Nanti kalau keadaan sudah normal Agis bisa masuk lagi kan?" Kata Bu Nina dengan suaranya yang memelas.
"Kok keluar? Jangan dong bu! Kasihan Agis, silahkan ibu saja yang datang ke sini, kalau pun ibu gak bisa datang ke sekolah juga biar nanti saya yang ke rumah ibu sambil lewat sepulang dari sekolah."
"Subhanallah ibu, terima kasih atas pengertian dan kebaikannya, insyaAllah kalau saya bisa saya akan datang ke sekolah setiap jadwal pengambilan modul/materinya." Kata Bu Nina dengan senyum sumringah di wajahnya. Akhirnya Bu Nina pulang dengan modul-modul pelajaran digenggamannya. "Mau tidak mau saya pun harus siap menjelaskan dan membimbing anakku belajar di rumah." Gumamnya dalam hati.

Keesokan harinya, sepulang piket dari sekolah, Bu Qonita mampir ke rumah Agis. Memastikan bahwa ia belajar dengan baik dan menyelesaikan tugas-tugasnya. Agis nampak senang dengan kehadiran Bu Qonita di rumahnya dan dia menunjukan bahwa meski di rumah ia pun tetap belajar. Tak lupa Bu Qonita pun menyemangati Agis agar tetap semangat karena di manapun, dalam keadaan sulit sekalipun dan dengan cara apapun kita tetap bisa belajar serta jangan lupa berdo'a agar pandemi ini cepat berakhir.



Cipanas-Lebak, 12 Agustus 2021
Iis Yuliati



Penawar Rinduku

Penawar Rinduku


Pagi ini sungguh aku dibuat terharu, saat terlihat di sudut taman depan rumah ada yang mengajakku tersenyum dari kejauhan. 

Perlahan kudekati dia ... ternyata, mereka telah menunjukan cintanya. Setelah 4 hari aku tinggalkan mereka muncul bermekaran seolah-olah tak tahan memendam kerinduan yang mendalam.

Aggrekku memang tak banyak, tapi mereka mampu menjadi penawar rindu yang menyelinap bersarang di setiap bilik kalbu. 

Entahlah ... ketika melihat mereka bermekaran, rasa bahagia hati serasa makin terpancar. Bunga anggrek memiliki filosofi yang luar biasa, bahwa setiap proses menuju keindahan bukanlah hal yang mudah, karena setiap proses membutuhkan perjuangan yang panjang dan proses tersebut merupakan hal yang tak instan dalam mencapainya. Hal ini berlaku sama dengan kehidupan, dimana dalam mencapai sebuah kesuksesan pun akan selalu dibutuhkan perjuangan dan kesabaran untuk memperolehnya.

Kenapa demikian, kita bisa lihat dengan munculnya bunga anggrek yang sedikit lama untuk berbunga, perlu kesabaran dalam sebuah penantian. Namun, ketika ia berbunga ... dia akan bertahan lebih lama memanjakan mata dan hati para pencintanya. 


#Cipanas-Lebak, 23 Juli 2021
Iis Yuliati
*salam pena ilalang🌹🌹


Puisi Telelet

Puisi Telelet


Mencoba ilmu baru, mengenal puisi telelet (tersusun dari 3456543)...🌹🌹


KABAR ANGIN

Oleh: Iis Yuliati



Hampa sudah

Dua tahun resah

Karena si covid mewabah.


Aturan demi aturan datang bergantian

Mulai WFH hingga kita tak bisa bepergian

PPKM pun tiba di mana-mana ada penyekatan

Setiap waktu terdengar kabar tentang kematian.


Belajar PTM Terbatas yang sudah terjadwal

Menyusun program bak melewati jalanan terjal

Semuanya buyar serasa seperti terjegal

Ada batu besar semakin mengganjal

Menghalangi jarak meski sejengkal.


Bertatap pun hanya kabar angin

Memeluk rindu mereka yang kuingin

Gelisah hati ini dan semakin terasa dingin

Ingat mereka tak bisa digenggam seperti angin

Kabarmu lagi-lagi hanya kabar angin

Memberi harap tapi dipending.


Namun, kita takboleh kalah

Meski tersiar kabar mewabah

Tugas belajar mengajar tetap terarah

Jangan terjebak dengan kata pasrah

Meski pasrah tetap tumbuh gairah.


Biar katanya wabah tetap menjalar

Dunia maya pun dianggap tak wajar

Nyatanya di mana pun kita bisa belajar

Karena anak-anak bangsa tetap harus pintar.


Mari Prokes kita tingkatkan

Agar si covid kepanasan

Pergi jauh tanpa kesan.



Cipanas-Lebak, 20 Juli 2021🌹🌹



Tentang Angka 4

Tentang Angka 4


Malam ini mendapat tantangan baru dari grup Kamis Menulis yang diprakarsai oleh Pak Brian. Awalnya agak bingung ketika Bu Aam ngajak bergabung, tapi di malam yang dingin dan sunyi sepi ini dalam balutan angin malam yang berhembus membelai ... saya mencoba membuat tulisan, semoga berkenan🤭🙏

Tantangan menulis malam ini tentang angka 4 ... entahlah harus nulis apa yah?🤔🤔☺️

Angka 4 merupakan angka yang unik dan cantik, namun banyak orang yang percaya dengan mitos tentang angka 4.

Beberapa orang percaya bahwa angka 4 berhubungan dengan kematian seperti yang dipercayai oleh sebagian warga Cina dan Korea. 

Angka 4 dianggap sesuatu hal yang bisa membawa sial, bahkan ada juga yang phobia terhadap angka 4 yang disebut dengan tetraphobia.  

Padahal ... coba dilihat betapa cantik dan sexynya sebuah angka 4 ... seperti penari balet yang sedang menari melentikan tubuh dan tangannya dengan indah seperti berikut ini:


Apapun dan berapapun angkanya, pasti tetap berarti dan tetap memiliki fungsi dengan keunikannya masing-masing.

Jangan tinggalkan angka empat 
Pasti ia tetap bermanfaat
Tak akan juga menghilangkan pangkat
Tak mungkin juga mengikis sebuah martabat
Kasihan jika ia menjadi bahan mengumpat
Angka empat juga bisa menjadi penambah semangat
Tak akan sampai lima jika tidak memulai dari empat🌹🌹

Seperti dengan 4 sehat 5 sempurna... penting sekali di masa pandemi ini  bukan? Untuk menyeimbangkan asupan makanan agar gizi terpenuhi dengan baik, sehingga badan sehat dan bugar terhindar dari si covid. 



Kamis, 15 Juli 2021
Cipanas-Lebak
Iis Yuliati